Selasa, 03 November 2015

Hal 5 (lanjutan)

D.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk Siswa
a.    Meningkatkan hasil belajar siswa dan kinerja siswa dalam pembelajaran IPS sehingga dapat belajar secara tuntas  menguasai kompetensi dasar yang diajarkan dan memiliki sikap sosial yang baik.
b.    Memberikan pengalaman yang bermakna dalam belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan perbaikan pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas melalui penggunaan model Cooperative Learning Type STAD.
2.    Untuk Guru
a.    Sebagai masukan khususnya bagi peneliti sendiri umumnya kepada guru lain, tentang alternatif strategi pembelajaran IPS di SD.
b.    Sebagai gambaran tentang manfaat penelitian tindakan kelas dalam upaya mengatasi masalah-masalah yang dijumpai dalam pembelajaran
yang dilaksanakan.
3.    Untuk Sekolah Dasar
a.    Sebagai masukan untuk memperbaiki dan  meningkatkan kualitas  pembelajaran di kelas VI  SDN Kurniajaya Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya.

b.    Memberikan gambaran untuk mengatasi masalah pembelajaran melalui kegiatan penelitian tindakan kelas.

Hal 4 (lanjutan)

Text Box: 4Sejalan dengan pendapat I Wayan Lasmawan (1997:25) dalam bukunya mengemukankan bahwa. “Penggunaan Cooperative Learning type STAD memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, keterampilan dalam suasana belajar mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis”.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik dan berkeinginan mengadakan penelitian yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar IPS  Tentang Kenampakan Alam negara-negara tetangga melalui Penerapan Model Cooperative Learning Type STAD pada Siswa Kelas VI  SDN Kurniajaya Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya”.

A.      Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas masalah penelitian dapat dirumuskan dengan dalam bentuk pertanyaan.
1.         Bagaimanakah proses pembelajaran IPS tentang Kenampakan Alam negara-negara tetangga melalui model Cooperative Learning type STAD  pada siswa Kelas VI  SDN Kurniajaya Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya?
2.         Apakah  model Cooperative Learning type STAD dapat meningkatan hasil belajar IPS tentang Kenampakan Alam negara-negara tetangga  pada siswa Kelas VI  SDN Kurniajaya Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya?

B.       Tujuan Penelitian
  Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.        Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran IPS tentang Kenampakan Alam negara-negara tetangga melalui model Cooperative Learning type STAD  pada siswa Kelas VI  SDN Kurniajaya Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya.
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPS tentang Kenampakan Alam negara-negara tetangga  melalui penerapan model Cooperative Learning type STAD pada siswa Kelas VI  SDN Kurniajaya Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya

Hal 3 (lanjutan)

Berdasarkan karakteristik siswa potensi setiap siswa berbeda satu dengan yang lainnya, maka dengan perbedaan itu digunakan untuk terjadinya komunikasi antara siswa yang mempunyai kemampuan lebih dengan siswa yang kurang. Dengan menggunakan model Cooperative Learning diharapkan siswa yang memiliki potensi lebih akan membantu siswa yang memiliki potensi biasa dan rendah. Bahkan siswa yang berpotensi lemah pun akan mempunyai keberanian untuk bertanya kepada teman sebayanya yang berpotensi lebih. Di sana akan terjadi komunikasi aktif dengan menggunakan bahasa anak yang akan lebih dapat dicerna dibandingkan dengan bahasa yang digunakan guru.  “IPS merupakan mata pelajaran yang membina para siswa SD dan MI agar mereka dapat mengenal fenomena-fenomena sosial mulai dari yang dekat dengan lingkungannya sampai dengan fenomena dunia. (Depdiknas, 2003: 7).
Text Box: 3Untuk dapat mengenal fenomena sosial diperlukan pemahaman diri yang berhubungan dengan orang lain. Dengan kata lain harus memiliki dasar-dasar bersosial. Sikap yang harus dikembangkan antara lain menghormati, menghargai, toleransi, kerjasama, bersatu, tanggung jawab, lapang dada, membantu, memberi, menerima dan sebagainya.
Akan lebih tepat seandainya guru mengemas pembelajaran yang dapat mengembangkan aspek-aspek sosial tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran Cooperative Learning type Student Teams Achievement Divisions (STAD). Menurut Slavin (1990), (Trianto : 2007: 52).
Cooperative Learning jenis STAD adalah salah satu jenis pembelajaran kelompok yang prosesnya melalui 5 tahapan, yaitu: 1) pengajaran oleh guru (pemberian materi secara demonstrasi, ceramah, eksperimen atau membahas buku teks), 2) kegiatan kelompok (membuat rangkuman atau kesimpulan dan persiapan tes), 3) pelaksanaan tes secara individu, 4) pengumpulan hasil tes dalam kelompok dan menghitung skor kelompok, dan 5) pemberian penghargaan kelompok unggul.


Penerapan Cooperative Learning type STAD merupakan salah satu pilihan dalam menentukan teknik dan strategi pembelajaran IPS. Cooperative Learning type STAD dipandang sebagai salah satu alternatip dalam memecahkan persoalan rendahnya mutu proses dan hasil pendidikan IPS. 

Hal 2 (lanjutan)

Begitu juga setelah dilakukan identifikasi masalah dalam pembelajaran IPS di kelas VI , ditemukan masalah terutama pada materi Kenampakan Alam negara-negara tetangga  hasil belajar siswa pada materi tersebut di bawah rata-rata kriteria ketuntasan minimum (KKM) terdapat 7 orang siswa yang mencapai KKM dan 13 orang siswa yang belum mencapai KKM. Bahkan nilai rata-rata yang diperoleh hanya mencapai 6,50 jauh dari nilai KKM yang diharapkan yaitu 75 atau 75%.
Text Box: 2 Rendahnya hasil belajar IPS perlu dikaji dari berbagai komponen pembelajaran, antara lain menyangkut guru, siswa, materi atau kendala-kendala yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS di sekolah. Ruseffendi (1980:5) mengatakan bahwa “faktor-faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya siswa belajar adalah kemampuan yang dimiliki seorang guru, cara belajar siswa, situasi pengajaran dan kondisi lingkungan.” Seorang guru yang profesional harus memiliki kemampuan dalam membantu siswa belajar. Salah satu kemampuan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa yaitu guru harus senantiasa berupaya memahami dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, karena dalam pelaksanaan pembelajaran di Kelas, seorang guru dihadapkan kepada keragaman karakteristik dan dinamika perkembangan siswa. Sebuah kelas pada umumnya bersifat heterogen, secara psikologis tidak ada dua individu yang sama, yang ada hanyalah keragaman.
 Selanjutnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran atau pembelajaran yang berpusat pada siswa (studen centered)  sangatlah diperlukan karena dapat memberikan pengalaman baru yang bermakna bagi siswa dalam membangun pengetahuannya. Bahkan dalam pengetahuan sosial bukan hanya aspek kognitif saja yang dikembangkan, melainkan yang lebih penting lagi adalah bagaimana aspek keterampilan sosial siswa dapat berkembang dengan lebih optimal.  

Berkaitan dengan sejumlah masalah yang dikemukakan di atas, salah satu solusi pemecahan masalah di atas diantaranya dengan menerapkan model pembelajaran  yang  dianggap  paling  tepat  untuk  diterapkan  dalam  proses pembelajaran IPS yakni model Cooperative Learning.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling utama dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Ini berarti tujuan pendidikan di sekolah tersebut akan tercapai bergantung pada bagaimana proses belajar itu dilaksanakan. Kegiatan belajar mengajar dirancang dengan mengikuti prinsip-prinsip khas yang edukatif, yaitu kegiatan yang berfokus pada kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Dengan demikian, dalam kegiatan belajar mengajar guru perlu memberikan motivasi kepada siswa untuk menggunakan haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar tetap berada pada diri siswa, dan guru hanya bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar secara berkelanjutan atau sepanjang hayat.
Pada pembelajaran IPS, guru di Sekolah Dasar harus sungguh-sungguh menaruh minat siswa terhadap IPS yang menjadi tanggung jawabnya. Keragu-raguan guru terhadap IPS dapat menimbulkan keraguan pada siswa, sehingga minat mereka tidak terbina. Sumaatmaja (2002:45) mengemukakan bahwa: “kegagalan awal dalam merebut minat dan dorongan ingin tahu dapat menjadi kesalahan fatal pada pembelajaran IPS, yang dapat memposisikan IPS pada posisi kelas dua bila dibandingkan dengan pembelajaran lain Non IPS. Oleh karena itu pembelajaran IPS semestinya diarahkan pada upaya  mengembangkan  iklim  yang kondusif  bagi  siswa  untuk  belajar  sekaligus melatih pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan selama pembelajaran.  Dari hasil data awal  menunjukkan kemampuan siswa dalam memahami materi Kenampakan Alam negara-negara tetangga sangat kurang.  Siswa cenderung melakukan aktivitas yang tak berguna, antara lain bergurau, ngobrol dan tidak konsentrasi sehingga pembelajaran terlihat kurang optimal
Berdasarkan kenyataan di kelas VI  diperoleh data tentang keadaan siswa, dari 20 orang siswa dikategorikan pandai sebanyak 5 orang, kategori sedang sebanyak 9 orang, dan kategori kurang sebanyak 6 orang.

Perjalanan

Perjalanan
Tanjakan Joglo