Berdasarkan
karakteristik siswa potensi setiap siswa berbeda satu dengan yang lainnya, maka
dengan perbedaan itu digunakan untuk terjadinya komunikasi antara siswa yang
mempunyai kemampuan lebih dengan siswa yang kurang. Dengan menggunakan model Cooperative Learning diharapkan siswa
yang memiliki potensi lebih akan membantu siswa yang memiliki potensi biasa dan
rendah. Bahkan siswa yang berpotensi lemah pun akan mempunyai keberanian untuk
bertanya kepada teman sebayanya yang berpotensi lebih. Di sana akan terjadi
komunikasi aktif dengan menggunakan bahasa anak yang akan lebih dapat dicerna
dibandingkan dengan bahasa yang digunakan guru.
“IPS merupakan mata pelajaran yang membina para siswa SD dan
MI agar mereka dapat mengenal fenomena-fenomena sosial mulai dari yang dekat
dengan lingkungannya sampai dengan fenomena dunia. (Depdiknas, 2003: 7).”
Akan
lebih tepat seandainya guru mengemas pembelajaran yang dapat mengembangkan
aspek-aspek sosial tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat
diterapkan adalah model pembelajaran Cooperative Learning type Student
Teams Achievement Divisions (STAD).
Menurut Slavin (1990), (Trianto : 2007: 52).
Cooperative Learning jenis STAD adalah salah satu jenis
pembelajaran kelompok yang prosesnya melalui 5 tahapan, yaitu: 1) pengajaran
oleh guru (pemberian materi secara demonstrasi, ceramah, eksperimen atau
membahas buku teks), 2) kegiatan kelompok (membuat rangkuman atau kesimpulan dan
persiapan tes), 3) pelaksanaan tes secara individu, 4) pengumpulan hasil tes
dalam kelompok dan menghitung skor kelompok, dan 5) pemberian penghargaan
kelompok unggul.
Penerapan
Cooperative Learning type STAD
merupakan salah satu pilihan dalam menentukan teknik dan strategi pembelajaran
IPS. Cooperative Learning type
STAD dipandang sebagai salah satu alternatip dalam memecahkan persoalan
rendahnya mutu proses dan hasil pendidikan IPS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar